Kekayaan Yang Hakiki
Masih dalam suasana ramadhan, hari ini saya ingin berbagi cerita hikmah, renungan untuk kita semua dalam berikhtiar, kurang lebih begini ceritanya :
“Ada seorang raja pada suatu kerajaan, ingin mengetes loyalitas atau kesetiaan bawahannya (anggota kabinet) termasuk sang patih dan pelayan dekatnya. Raja tersebut membawa mereka ke tempat penyimpanan harta miliknya. Semua bawahannya disuruh masuk ke ruangan yang dipenuhi gunungan emas dan harta lainnya itu.
Sang raja menyuruh setiap bawahannya untuk menempati setiap gunungan harta itu. Saat semua siap, sang raja meminta setiap bawahannya untuk mengambil harta saat obor (penerangan) ruangan itu dimatikan sesaat. Setelah semua siap, sang raja pun mematikan penerangan ruangan. Saat ruangan gelap, bawahannya langsung tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dengan mengambil harta sebanyak-banyaknya. Setelah beberapa saat, lampu pun dinyalakan kembali, dan apa yang terjadi?
Setiap bawahan raja itu mengambil harta si raja sebanyak yang mereka mampu ambil, ada yang seluruh sakunya penuh, ada yang menggunakan wadah untuk menampung harta-harta itu, bahkan ada yang sampai mulutnya dipenuhi emas. Tapi tunggu dulu si pelayan raja tidak tampak dalam gunungan harta, si pelayan ternyata sedang memegang tangan sang raja dengan hanya beberapa keping emas di sakunya. Lho kenapa ya?
Seluruh anggota kabinet dan si patih pun menertawakan kebodohan si pelayan yang menyianyiakan kesempatan emas itu. Sang raja pun bertanya kepada si pelayan mengapa dia tidak mengambil harta sebanyak-banyaknya. Lalu si pelayan menjawab, “untuk apa saya harus berlomba mengambil harta sebanyak-banyaknya, jika raja tidak merelakan hartanya diambil karena tidak ada yang menjaga raja saat gelap tadi. Walaupun dapat banyak, kalau raja tidak merelakan hartanya dan mengunci saya di ruangan ini, maka percuma harta itu tidak bisa saya bawa dan saya gunakan. Tapi kalau raja merelakannya, walaupun sedikit, maka saya bisa membawa sedikit harta ini dan menggunakannya” .
Mendengar jawaban tadi, sang raja pun merelakan harta itu untuk dimiliki si pelayan, dan menyuruh seluruh bawahannya (anggota kabinet dan si patih) tadi untuk menyimpan kembali harta yang banyak tadi.”
Kisah tadi merupakan renungan untuk kita semua, banyak diantara kita mungkin termasuk saya, terlalu cinta pada dunia (harta) dan sering melupakan Alloh, Tuhan yang Maha memiliki, dan pemberi rizki. Padahal walaupun banyak harta yang kita miliki, kalau Alloh tidak meridhoinya, maka semua itu semu, tidak ada artinya. Akan tetapi, jika kita selalu mengingat Alloh dalam setiap ikhtiar (bisnis) kita dan ikhtiar kita di ridhoi Alloh, maka walaupun harta kita sedikit, maka semua itu akan sangat bermanfaat dan berkah. Apalagi jika ikhtiar kita kuat, maka kesuksesan dunia dan akhirat pun Insya Alloh akan tercapai.
Oleh karena itu mari pembaca sekalian kita luruskan niat kita untuk mengharap ridho Alloh, dan sempurnakan ikhtiar.
Mudah-mudahan bermanfaat.
“Berilah kemudahan/keringanan kepada orang lain niscaya Alloh akan memberikan keringanan kepada kita.”









